NAMA :
TENNY ARIANI
NIM :
20102812021
MATA KULIAH : Desain Pembelajaran Matematika
PEND MATEMATIKA
PPS UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Teori perkembangan kognitif melihat bahwa proses belajar
seseorang dilihat dari tingkat kemampuan kognitifnya, dalam proses belajar
mengajar tingkat kognitif menjadi suatu hal yang sangat penting, karena
kemampuan tingkat kognitif seseorang tergantung dari usia seseorang, sehingga
dalam pembelajaran pada orang dewasa berbeda dengan pembelajaran anak-anak.
Zoltan P. Dienes adalah seorang matematikawan yang
memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Dasar
teorinya bertumpu pada teori pieget, dan pengembangannya diorientasikan pada
anak-anak, sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik
bagi anak yang mempelajari matematika.
Dienes (Ruseffendi,
1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi
tentang struktur, memisah-misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur
dan mengkategorikan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur. Seperti
halnya dengan Bruner, Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip
dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami
dengan baik. Ini mengandung arti bahwa jika benda-benda atau objek-objek dalam
bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam
pengajaran matematika.
Perkembangan konsep
matematika menurut Dienes (Resnick, 1981) dapat dicapai melalui pola berkelanjutan,
yang setiap seri dalam rangkaian kegiatan belajar dari konkret ke simbolik.
Tahap belajar adalah interaksi yang direncanakan antara yang satu segmen
struktur pengetahuan dan belajar aktif, yang dilakukan melalui media matematika
yang disain secara khusus. Menurut Dienes, permainan matematika sangat penting
sebab operasi matematika dalam permainan tersebut menunjukkan aturan secara
konkret dan lebih membimbing dan menajamkan pengertian matematika pada anak
didik. Dapat dikatakan bahwa objek-objek konkret dalam bentuk permainan
mempunyai peranan sangat penting dalam pembelajaran matematika jika
dimanipulasi dengan baik.
Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat
dianggap sebagai studi tentang struktur, memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara
struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara
struktur-struktur. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip
dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami
dengan baik. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam
bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam
pengajaran matematika.
Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan
dalam konsep-konsep tertentu, akan makin jelas konsep yang dipahami anak,
karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis
dalam konsep yang dipelajarinya itu.
Dalam mencari kesamaan sifat anak-anak mulai diarahkan dalam
kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti.
Untuk melatih anak-anak dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini, guru perlu
mengarahkan mereka dengan mentranslasikan kesamaan struktur dari bentuk
permainan yang satu ke bentuk permainan lainnya. Translasi ini tentu tidak
boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula..
Menurut
Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap
tertentu. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap, yaitu:
Permainan Bebas (Free Play)
Dalam setiap tahap belajar, tahap yang paling awal dari
pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Permainan bebas merupakan
tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan.
Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Selama permainan pengetahuan
anak muncul. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur
sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari.
Misalnya dengan diberi permainan block logic, anak didik mulai
mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna, tebal tipisnya benda yang
merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi.
Permainan yang Menggunakan Aturan (Games)
Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai
meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu.
Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat
dalam konsep yang lainnya. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi.
Jelaslah, dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan
memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Makin banyak bentuk-bentuk
berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu, akan semakin jelas konsep yang
dipahami siswa, karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan
matematis dalam konsep yang dipelajari itu. Menurut Dienes, untuk membuat
konsep abstrak, anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan
bermacam-macam pengalaman, dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan
pengalaman itu. Contoh dengan permainan block logic, anak diberi
kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis, atau yang berwarna merah,
kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga, atau yang tebal, dan
sebagainya. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis, atau yang merah, timbul
pengalaman terhadap konsep tipis dan merah, serta timbul penolakan terhadap
bangun yang tipis (tebal), atau tidak merah (biru, hijau, kuning).
Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities)
Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam
kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti.
Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini, guru perlu mengarahkan
mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain.
Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan
semula. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic,
anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal, anak
diminta
mengidentifikasi
sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok).
Permainan Representasi (Representation)
Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa
situasi yang sejenis. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep
tertentu. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam
situasi-situasi yang dihadapinya itu. Representasi yang diperoleh ini bersifat
abstrak, Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika
yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. Contoh
kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh
tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini.
Segitiga
Segiempat Segilima Segienam Segiduapuluhtiga
0
diagonal 2 diagonal 5 diagonal ….. diagonal ……. diagonal
Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization)
Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan
kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan
simbol matematika atau melalui perumusan verbal. Sebagai contoh, dari kegiatan
mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut, kegiatan
berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang
digeneralisasikan dari pola yang didapat anak.
Permainan dengan Formalisasi (Formalization)
Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir.
Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan
kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut, sebagai contoh siswa yang
telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma, harus
mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. Contohnya,
anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti
aksioma, harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma, dalam arti
membuktikan teorema tersebut.
Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan
teorema serta membuktikannya secara deduktif, tetapi mereka sudah mempunyai
pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang
terlibat satu sama lainnya. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan
peserta sifat-sifat tertutup, komutatif, asosiatif, adanya elemen identitas,
dan mempunyai elemen invers, membentuk sebuah sistem matematika. Dienes
menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama
belajar.
Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu
dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat
dipahami dengan tepat. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam
berbagai penyajian (multiple embodiment), sehingga anak-anak
dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat
anak didik. Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat
mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep.
Menurut Dienes, variasi sajian hendaknya tampak berbeda
antara satu dan lainya sesuai dengan prinsip variabilitas perseptual (perseptual
variability), sehingga anak didik dapat melihat struktur dari berbagai
pandangan yang berbeda-beda dan memperkaya imajinasinya terhadap setiap konsep
matematika yang disajikan. Berbagai sajian (multiple embodiment)
juga membuat adanya manipulasi secara penuh tentang variabel-variabel
matematika.
Variasi matematika dimaksud untuk membuat lebih jelas
mengenai sejauh mana sebuah konsep dapat digeneralisasi terhadap konsep yang
lain. Dengan demikian, semakin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan
dalam konsep tertentu, semakin jelas bagi anak dalam memahami konsep tersebut.
Berhubungan dengan tahap belajar, suatu anak didik
dihadapkan pada permainan yang terkontrol dengan berbagai sajian. Kegiatan ini
menggunakan kesempatan untuk membantu anak didik menemukan cara-cara dan juga
untuk mendiskusikan temuan-temuannya. Langkah selanjutnya, menurut Dienes,
adalah memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material
kongkret dengan gambar yang sederhana, grafik, peta dan akhirnya memadukan
simbolo – simbol dengan konsep tersebut.
Langkah-langkah ini merupakan suatu cara untuk memberi
kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan
formalisasi melalui percobaan matematika. Proses pembelajaran ini juga lebih
melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara aktif dari pada hanya
sekedar menghapal. Pentingnya simbolisasi adalah untuk meningkatkan kegiatan
matematika ke satu bidang baru.
Perkembangan kognitif setiap individu yang berkembang secara
kronologi tidak terlepas dari faktor usia, pola berpikir anak-anak tidak sama
dengan pola berfikir orang dewasa, semakin ia dewasa makin meningkat pula
kemampuan berpikirnya. Jadi, dalam memandang anak keliru jika kemampuan anak
dengan kemampuan orang dewasa sama, sebab anak bukan miniatur orang dewasa.
Selain daripada itu, perkembangan kognitif seorang individu
dipengaruhi oleh lingkungan dan transmisi sosial. Jadi, karena efektivitas
hubungan antara setiap individu dengan lingkunganya dan kehidupan sosialnya
berbeda satu sama lain. Maka tahap perkembangan kognitif yang dicapai oleh
setiap individu berbeda pula. Oleh karena itu agar perkembangan kognitif
seorang anak berjalan secara maksimal diperkaya dengan pengalaman edukatif.
Daftar Pustaka
Dahar,
1988. Teori-Teori Belajar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pengambangan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan.
Fitriani Nur.2008.Teori Belajar
Permainan Dienes dalam Pembelajaran Matematika. http://www.masbied.com/2010/03/20/teori-belajar-permainan-dienes-dalam-pembelajaran-matematika/
(Online Tanggal 12 September 2011)
Lambas,
dkk. 2004: Materi Pelatihan Terintegrasi Matematika Buku 3:
DEPDIKNAS.Jakarta
Nur,
1999. Teori Pembelajaran Kognitif. Universitas Negeri Surabaya.
Ratumanan,
T.G. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Unesa University Press, Surabaya.
Tim MKPBM, 2001. Strategi
Pembelajaran Matematika Kontemporer. JICA Universitas Pendidikan Indonesia
(UPI).
NAMA :
TENNY ARIANI
NIM :
20102812021
MATA KULIAH : Desain Pembelajaran Matematika
PEND MATEMATIKA
PPS UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TEORI
BELAJAR BERMAKNA DARI DAVID P. AUSUBEL
Teori pembelajaran Ausubel merupakan salah
satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam
cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan.
Menurut Ausubel bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah “bermakna”
(meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan
informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif
seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan
generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Pembelajaran bermakna adalah
suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur
pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran.
Menurut Ausubel dalam (Dahar, 1988: 134)
belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama
berhubungan dengan cara informasi atau materi disajikan pada siswa, melalui
penemuan atau penerimaan. Belajar penerimaan menyajikan materi dalam bentuk
final, dan belajar penemuan mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian
atau seluruh materi yang diajarkan. Dimensi kedua berkaitan dengan bagaimana
cara siswa dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur
kognitif yang telah dimilikinya, ini berarti belajar bermakna. Akan tetapi jika
siswa hanya mencoba-coba menghapal informasi baru tanpa menghubungkan dengan
konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya, maka dalam hal ini
terjadi belajar hafalan.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi
belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas,
dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu
tertentu.
Sifat-sifat struktur kognitif menentukan
validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke
dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi.
Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang
sahih dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi
sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak
teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.
Menurut Ausubel, seseorang belajar dengan
mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya. Dalam proses
itu seseorang dapat memperkembangkan skema yang ada atau dapat mengubahnya.
Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri.
Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat
dekat dengan Konstruktivesme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar
mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru kedalam sistem
pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi
pengalaman baru kedalam konsep atau pengertian yang sudah dipunyai siswa.
Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.
Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat
mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama
seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa,
terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau
mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada
tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak
waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan
penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.
Inti dari teori belajar bermakna Ausubel
adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam
menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang
relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan
guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance
organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan
consolidation.
Empat type belajar menurut Ausubel , yaitu:
- Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau sebaliknya, siswa terlebih dahulu menmukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
- Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
- Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.
- Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir , kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah ia miliki.
Prasyarat agar belajar menerima menjadi bermakna menurut
Ausubel, yaitu:
- Belajar menerima yang bermakna hanya akan terjadi apabila siswa memilki strategi belajar bermakna.
- Tugas-tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus disesuaikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
- Tugas-tugas belajar yang diberikan harus sesuai dengan tahap perkembangan intelektual siswa.
C. SUMBER
Siroj, Rusdy A.
2006. Teori-teori Belajar-Mengajar Matematika (Diktat bahan pelatihan
guru matematika SMP kota Palembang). Palembang : Depdiknas
Devi_'Athifah .2010. Teori belajar
David P Ausubel. http://mardhiyanti.blogspot.com/2010/03/teori-belajar-bermakna-dari-david-p.html. Online
Tgl 6 September 2010.
TEORI HIRARKI BELAJAR DARI ROBERT
M. GAGNE
Robert Mills Gagne (21 Agustus 1916
– 28 April 2002), Gagne lahir diAndover Utara, Massachusetts. Ia mendapatkan
gelar A.B dari Universitas Yale pada tahun 1937 dan gelar Ph.D dari Universitas
Brown pada tahun 1940. Dia adalah seorang Professor dalam bidang psikologi dan
psikologi pendidikan di Connecticut College khusus wanita (1940-1949),
Universitas Negara bagian Pensylvania (1945-1946), Professor di Departemen
penelitian pendidikan diUniversitas Negara bagian Florida di Tallahasse mulai
tahun 1969.
Gagne juga menjabat sebagai direktur
riset untuk angkatan udara (1949-1958) di Lackland,Texas, Lowry dan Colorado.
Ia pernah bekerja sebagai konsultan dari departemen pertahanan (1958-1961) dan
untuk dinas pendidikan Amerika Serikat (1964-1966), selain itu ia juga bekerja
sebagai direktur riset pada Institut penelitian Amerika di Pittsburgh
(1962-1965).Hasil kerja Gagne memiliki pengaruh besar pada pendidikan Amerika
dan pada pelatihan militer dan industri.
Robert
M, Gagne adalah salah seorang ahli teori belajar (learning theorist) yang namanya dapat disejajarkan dengan
nama-nama besar dan terkenal lain di zamannya seperti Jean Piaget, J.F. Guilford, Zoltan P. Dienes, Richard R. Skemp, David
P. Ausubel, Jerome Bruner, Burrhus F. Skinner maupun Lev. S. Vygotsky.
Apa itu Hirarki Belajar ?
Para
guru matematika, fisika, kimia, bahasa inggris ataupun mata pelajaran lainnya
tentunya sudah mengalami sendiri bahwa satu Standar Kompetensi diajarkan mendahului
Standar Kompetensi lainnya, dan satu Kompetensi Dasar diajarkan mendahului
Kompetensi Dasar lainnya. Pada dasarnya, pengetahuan yang lebih sederhana harus
dikuasai para siswa terlebih dahulu dengan baik agar ia dapat dengan mudah
mempelajari pengetahuan yang lebih rumit.
Pertanyaan
yang sering muncul adalah mengapa suatu Standar Kompetensi harus diajarkan
mendahului Standar Kompetensi lainnya? Atas dasar apa penentuan itu? Apakah
hanya didasarkan pada kata hati para guru dan pakar saja? Untuk menjawab
tersebut, Gagne memberikan alasan pemecahan dan pengurutan materi pembelajaran
dengan selalu menanyakan pertanyaaan ini : “Pengetahuan apa yang terlebih
dahulu harus dikuasai siswa agar ia berhasil mempelajari suatu pengetahuan
tertentu ?”. Setelah mendapat jawabannya, ia harus bertanya lagi seperti
pertanyaan yang diatas tadi untuk mendapatkan prasyarat yang harus dikuasai dan
dipelajari pengetahuan tersebut. Begitu seterusnya sampai didapatkan
urut-urutan pengetahuan dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks.
Dengan cara seperti itulah kita akan mendapatkan hirarki belajar.
Teori ini ditemukan oleh Gagne yang
didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses
belajar manusia. Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang
efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu
urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar
dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Robert M
Gagne membedakan 8 type belajar yakni :
1. Signal learning (belajar isyarat)
2. Stimulus-response learning (belajar stimulus-respons)
3. Chaining ( rantai atau rangkaian)
4. Verbal Association (asosiasi verbal)
5. Discrimination learning (belajar diskriminasi)
6. Concept learning (belajar konsep)
7. Rule learning (belajar aturan)
8. Problem solving (memecahkan masalah)
Empat fase dalam belajar :
Belajar berlangsung dalam empat fase, yakni :
1. Signal learning (belajar isyarat)
2. Stimulus-response learning (belajar stimulus-respons)
3. Chaining ( rantai atau rangkaian)
4. Verbal Association (asosiasi verbal)
5. Discrimination learning (belajar diskriminasi)
6. Concept learning (belajar konsep)
7. Rule learning (belajar aturan)
8. Problem solving (memecahkan masalah)
Empat fase dalam belajar :
Belajar berlangsung dalam empat fase, yakni :
- Fase Apprehending
Seorang harus memperhatikan stimulus tertentu, harus
menangkap artinya dan memahaminya. Suatu stimulus dapat ditafsirkan dengan
berbagai cara, misalnya “sakura” dapat ditafsirkan sebagai bunga di Jepang atau
berbagai nama film.
- Fase Acquisition
Terbukti
dari kesanggupan yang diperoleh seseorang untuk melakukan sesuatu yang belum
diketahuinya sebelumnya.
- Fase Storage
Kemampuan yang baru itu disimpan. Ada kalanya apa yang
dipelajari itu disimpan atau diingat sebentar saja, misalnya beberapa menit
seperti nomor telepon untuk memutar nomor tertentu, dapat pula diingat
sepanjang hiidup. Jadi ada ingatan jangka pendek, ada pula ingatan jangka
panjang. Yang terakhir ini sangat penting bagi pendidikan.
- Fase Retrieval
Pengambilan kembali. Apa yang disimpan itu pada suatu waktu
diperlukan dan diambil dari simpanan. Retrieval ini tidak semata-mata
mengeluarkan kembali apa yang disimpan, akan tetapi menggunakannya dalam
situasi tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah. Ada kemungkinan bahwa apa
yang disimpan itu dikeluarkan dalam bentuk yang lain daripada sewaktu disimpan.
Gejala ini termasuk transfer apa yang dipelajari itu.
Keempat fase ini sukar dipisahkan dengan tegas. Kedua fase
pertama dapat berlangsung dalam beberapa detik. Keduanya dapat dipandang
sebagai perbuatan belajar, sedangkan fase tiga dan empat dipandang sebagai
mengingat. Belajar hanya terjadi bila ada sesuatu yang diingat dari apa yang
dipelajari itu.
Hirarki dalam Belajar
Hirarki dalam Belajar
Untuk mempelajari sesuatu, untuk
dapat memecahkan suatu masalah, seseorang harus mampu menguasai
kemampuan-kemampuan atau aturan-aturan yang lebih sederhana yang merupakan
prasyarat guna pemecahannya. Setiap aturan pada tingkat yang lebih tinggi
memerlukan penguasaan aturan pada tingkat yang lebih rendah. Bila ada sesuatu
yang tidak dikuasai dalam hierarki atau jenjang itu, maka pelajar akan menghadapi
kesulitan.
Perencanaan Hirarki dalam Mengajar
Perencanaan Hirarki dalam Mengajar
Adanya jenjang dalam mempelajari
sesuatu mengharuskan guru untuk merencanakan langkah-langkah yang menuju ke
arah penguasaan bahan pelajaran. Jadi kita dapat menganalisis prasyarat untuk
memahami bahan pelajaran yang akan kita berikan, dengan menganalisis
prasyarat-prasyarat atau langkah-langkah secara berangsur surut, sampai aturan
atau konsep yang paling sederhana. Dengan demikian kita akan memperoleh semacam
“peta” tentang hal-hal yang diperlukan. Dengan adanya analisis langkah-langkah
itu kita ketahui secara sistematis jalan mana yang harus ditempuh oleh murid
agar memahami bahan pelajaran itu.
Contoh Pemanfaatan Hirarki Belajar
Pada suatu hari, seorang teman guru matematika yang sudah
mengajar beberapa tahun di SMP mengeluh tentang sebagian besar siswanya yang
tetap tidak bisa atau belum mampu untuk memfaktorkan bentuk-bentuk belajar
seperti x2 -2x – 35 menjadi (x – 7)(x + 5). Padahal, menurut guru
tersebut, ia sudah berulang-ulang menjelaskan dengan berbagai cara namun tetap
saja siswa tidak dapat memfaktorkan. Penyelesaian di atas tadi dapat didekati
dengan menggunakan teori belajar hirarki belajar diatas. Ternyata kemampuan
siswanya untuk menjumlahkan dan mengalikan dua bilangan bulat mengalami
kesulitan dua tugas tersebut. Jadi bagaimana mungkin mereka bisa memfaktorkan
apabila mereka tidak dapat menjumlahkan dan mengalikan dau bilangan bulat.
Sehingga para siswa harus dibimbing sedemikian rupa dapat menjumlahkan dan
mengalikan dua bilangan bulat dengan lancar.
Daftar Rujukan :
Shidiq Fajar. Hirarki Belajar : Suatu Teori dari Gagne. Jogjakarta
Devi Athifah. 2010. Teori
belajar hirarki. Palembang. Online tgl 24 September 2011
Ana Ristanti Bayu. 2010.
http://anaristanti.blogspot.com/2010/03/teori-hirarki-belajar-dari-gagne.html
. Online tgl 24 September 2011
______.2011. http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2200755-biografi-robert-gagne/.
Online tgl 24 September 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar