STATISTIK, STASTIKA DAN MACAM-MACAM DATA
- Latar Belakang
Penggunaan Statistika sudah
dikenal sebelum abad 18, pada saat itu negara-negara Babilon, Mesir dan Roma
mengeluarkan catatan tentang nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan dan jumlah
anggota keluarga. Kemudian pada tahun 1500, pemerintahan Inggris mengeluarkan
catatan mingguan tentang kelahiran dan kematian. Baru pada tahun 1772 – 1791.
G. Achenwall menggunakan istilah statistika sebagai kumpulan data tentang
negara. Tahun 1791 – 1799, Dr. E.A. W Zimmesman mengenalkan kata istilah
statistika dalam bukunya Statistical Account Of Scotland. Tahun 1981 – 1935 R.
Fisher mengenalkan analisa varians dalam literature statistiknya.
Di Indonesia Pengantar statistika
telah dicantumkan dalam kurikulum matematika. Hal ini disebabkan karena sekitar
lingkungan kita berada selalu dikaitkan dengan Statistik. Misalnya di kantor
kelurahan kita mengenal statistic desa, didalamnya memuat keadaan penduduk
mulai dari banyak penduduk, pekerjaannya, banyak anak dan sebagainya.
I.
Statistik
Kata
Statistik berasal dari kata Latin yaitu status yang berarti “negara” (dalam
bahasa Inggris adalah state). Pada awalnya kata-kata statistik diartikan
sebagai keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh negara dan berguna bagi
negara ( Anto Dajan, Pengantar Metode Stastik). Misalnya keterangan mengenai
jumlah keluarga penduduk suatu negara, keterangan mengenai pekerjaan penduduk
suatu negara dan sebagainya. Perkembangan selanjutnya menunjukkan pengertian
statistik merupakan suatu kumpulan angka-angka. Misalnya statistik kelahiran,
statistik hasil pertanian dan sebagainya. Jadi statistik adalah kumpulan
angka-angka mengenai masalah atau kejadian, sehingga dapat memberikan gambaran
mengenai masalah atau kejadian tersebut. Biasanya kumpulan data tersebut sudah
disusun dalam bentuk tabel.
II.
Statistika
Statistika merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana mengumpulkan,
menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data.
Jadi Statistika adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara
pengumpulan data, pengolahan atau penganalisannya dan penarikan kesimpulan
berdasarkan kumpulan data dan penganalisaan yang dilakukan. Statistika
dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu :
1.
Statistika
Deskriptif (Statistik deduktif)
Adalah statistika yang hanya
menggambarkan dan menganalisis kelompok data yang diberikan tanpa penarikan
kesimpulan mengenai kelompok data yang lebih besar.
2.
Statistika
Inferensial
Biasanya memasukkan unsur peluang dalam menarik kesimpulannya
dan kesimpulan yang valid. Jadi statistika inferensia adalah metode yang
berhubungan dengan analisis sebagian data untuk kemudian sampai pada penarikan
kesimpulan tentang seluruh gugus data induknya.
III.
Macam-macam Data
Ditinjau
dari beberapa segi.
- Menurut Sifatnya
a. Data Kualitatif
Dalam bentuk kata, kalimat atau
gambar. Contohnya Sebagian dari produk barang jadi pada perusahaan “PT.
Mandiri.TBK” rusak.
b. Data Kuantitatif
1. Diskrit/ Nominal
Yaitu data yang hanya dapat
digolongkan secara terpisah, diskrit/kategori, data diperoleh dari hasil
menghitung
2. Kontinu(Hasil Pengukuran)
-
Ordinal
(berbentuk ranking I,II,III)
-
Interval
Data yang jaraknya sama tetapi tidak
mempunyai nol absolute/mutlak
Misal : Skala Thermometer, walaupun
ada nilai 00 tetapi tetap ada nilainya.
Data interval dapat dibuat data
ordinal
-
Ratio
Jaraknya sama dan mempunyai nilai
nol mutlak dan dapat diubah ke dalam interval dan ordinal atau dapat
dijumlahkan atau dikalikan
- Menurut cara memperolehnya
a. Data Primer
adalah data yang dikumpulkan dan diolah
sendiri oleh suatu organisasi atau lembaga serta diperoleh secara langsung dari
objeknya. Contohnya : pemerintah melalui Biro Pusat Statistik(BPS) ingin
mengetahui jumlah penduduk Indonesia, maka petugas-petugas BPS secara lansung
sendiri mendatangi rumah tangga di Indonesia.
b. Data Sekunder
Adalah data yang diperoleh dalam
bentuk sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah pihak lain, biasanya data itu
dicatat dalam bentuk publikasi-publikasi (Koran,majalah, journal, dll).
Contohnya : seorang peneliti memerlukan data mengenai jumlah penduduk di sebuah
kota dari tahun 1960 sampai 1970, maka orang itu dapat memperolehnya di BPS.
PENYAJIAN DATA
Ada dua cara
penyajian data yang sering dilakukan, yaitu
a) daftar atau
tabel,
b) grafik atau
diagram.
1. Penyajian
Data dalam Bentuk Tabel
Misalkan,
hasil ulangan Bahasa Indonesia 37 siswa kelas XI SMA 3 disajikan dalam tabel di
samping. Penyajian data pada Tabel 1.1 dinamakan penyajian data sederhana.
Dari tabel 1.1, Anda dapat menentukan banyak siswa yang mendapat nilai 9,
yaitu sebanyak 7 orang. Berapa orang siswa yang mendapat nilai 5? Nilai
berapakah yang paling banyak diperoleh siswa?

Jika
data hasil ulangan bahasa Indonesia itu disajikan dengan cara mengelompokkan
data nilai siswa, diperoleh tabel frekuensi berkelompok seperti pada Tabel 1.2.
adalah Tabel Distribus Frekunsi

2.
Penyajian Data dalam Bentuk Diagram
Kerapkali
data yang disajikan dalam bentuk tabel sulit untuk dipahami. Lain halnya jika
data tersebut disajikan dalam bentuk diagram maka Anda akan dapat lebih cepat
memahami data itu. Diagram adalah gambar yang menyajikan data secara visual
yang biasanya berasal dari tabel yang telah dibuat.
Meskipun
demikian, diagram masih memiliki kelemahan,yaitu pada umumnya diagram tidak
dapat memberikangambaran yang lebih
detail.
a.
Diagram Batang
Diagram
batang biasanya digunakan untuk menggambarkan data diskrit (data cacahan). Diagram
batang adalah bentuk penyajian data statistik dalam bentuk batang yangdicatat
dalam interval tertentu pada bidang
cartesius.
Ada
dua jenis diagram batang, yaitu
1)
diagram batang vertikal, dan
2) diagram batang horizontal.
Contoh
soal
Jumlah lulusan SMA
X di suatu daerah dari tahun 2001 sampai tahun 2004 adalah sebagai berikut :

Nyatakan data di
atas dalam bentuk diagram batang.
Penyelesaian
Data tersebut dapat disajikan dengan
diagram batang sebagai berikut.

Diagram Garis
Penyajian data statistik dengan
menggunakan diagram berbentuk garis lurus disebut diagram garis lurus atau
diagram garis. Diagram garis biasanya digunakan untuk menyajikan data statistik
yang diperoleh berdasarkan pengamatan dari waktu ke waktu secara berurutan.
Sumbu X menunjukkan waktu-waktu
pengamatan, sedangkan sumbu Y menunjukkan nilai data npengamatan untuk suatu
waktu tertentu. Kumpulan waktu dan pengamatan membentuk titik-titik pada bidang
XY, selanjutnya kolom dari tiap dua titik yang berdekatan tadi dihubungkan
dengan garis lurus sehingga akan diperoleh diagram garis atau grafik garis.
Seperti halnya diagram batang, diagram garis pun
memerlukan sistem sumbu datar (horizontal) dan sumbu tegak (vertikal) yang saling berpotongan tegak lurus. Sumbu mendatar
biasanya menyatakan jenis data, misalnya waktu dan berat. Adapun sumbu tegaknya menyatakan frekuensi
data.
Langkah-langkah
yang dilakukan untuk membuat diagram garis adalah sebagai berikut.
1) Buatlah suatu
koordinat (berbentuk bilangan) dengan sumbu mendatar menunjukkan
waktu dan sumbu
tegak menunjukkan data pengamatan.
2) Gambarlah
titik koordinat yang menunjukkan data pengamatan pada waktu t.
3) Secara
berurutan sesuai dengan waktu, hubungkan titik titik koordinat tersebut dengan
garis lurus.
Berikut ini
adalah tabel berat badan seorang bayi yang dipantau sejak lahir sampai berusia
9 bulan.

Diagram
garisnya.
Langkah ke-1
Buatlah
sumbu mendatar yang menunjukkan usia anak (dalam bulan) dan sumbu tegak yang
menunjukkan berat badan anak (dalam kg).
Langkah
ke-2
Gambarlah
titik koordinat yang menunjukkan data pengamatan pada waktu t bulan.
Langkah
ke-3
Secara
berurutan sesuai dengan waktu, hubungkan titik-titik koordinat tersebut dengan
garis lurus.
Dari
ketiga langkah tersebut, diperoleh diagram garis dari data tersebut tampak pada
Gambar 1.3.

Diagram
Lingkaran
Untuk
mengetahui perbandingan suatu data terhadap keseluruhan, suatu data lebih tepat
disajikan dalam bentuk diagram lingkaran. Diagram lingkaran adalah
bentukpenyajian data statistika dalam bentuk lingkaran yang dibagi menjadi
beberapa juring lingkaran.
Langkah-langkah
untuk membuat diagram lingkaran adalah sebagai berikut.
1.
Buatlah sebuah lingkaran pada kertas.
2.
Bagilah lingkaran tersebut menjadi beberapa juringlingkaran untuk menggambarkan
kategori yang datanya telah diubah ke dalam derajat.
Agar
lebih jelasnya, pelajarilah contoh berikut.
Tabel berikut
menunjukkan banyaknya siswa di suatu kabupaten menurut tingkat sekolah pada
tahun 2007.

Diagram
lingkaran untuk data tersebut.
Jumlah seluruh
siswa adalah 1.000 orang. Seluruh siswadiklasifikasikan menjadi 5 katagori:
SD = 175 orang
SMP = 600 orang
SMA = 225 orang.
• Siswa SD = 175
1.000 × 100% =
17,5%
Besar sudut
sektor lingkaran = 17,5% × 360° = 63°
• Siswa SMP =
600
1.000 × 100% =
60%
Besar sudut
sektor lingkaran = 60% × 360° = 216°
• Siswa SMA =
225
1.000 × 100% =
22,5%
Besar sudut
sektor lingkaran = 22,5% × 360° = 81°
Diagram
lingkaran ditunjukkan pada Gambar

Diagram
Batang Daun
Diagram
batang daun dapat diajukan sebagai contoh penyebaran data. Dalam diagram batang
daun, data yang terkumpul diurutkan lebih dulu dari data ukuran terkecil sampai
dengan ukuran yang terbesar. Diagram ini terdiri dari dua bagian, yaitu batang
dan daun. Bagian batang memuat angka puluhan dan bagian daun memuat angka
satuan. Perhatikan contoh soal berikut, agar kamu dapat segera memahami.
Contoh
soal
Buatlah
diagram batang-daun dari data ulangan harian Fisika siswa SMA kelas XI IPA berikut.
45
10 20 31 48 20 29 27 11 8
25
21 42 24 22 36 33 22 23 13
34 29 25 39 32 38 50 5
Mula-mula
kita buat diagram batang-daun di sebelah kiri kemudian membuat diagram batang-daun
di sebelah kanan agar data terurut.
Dari diagram batang-daun di atas dapat dibaca
beberapa ukuran tertentu, antara lain:
a.
ukuran terkecil adalah 5;
b.
ukuran terbesar adalah 50;
c.
ukuran ke-1 sampai ukuran ke-10 berturut-turut adalah 5, 8, 10, 11, 20, 20, 21,
22,22 dan 23;
d. ukuran ke-16 adalah: 29.
Diagram
Kotak Garis
Data
statistik yang dipakai untuk menggambarkan diagram kotak garis adalah statistik
Lima Serangkai, yang terdiri dari data ekstrim (data terkecil dan data
terbesar),
Q1,
Q2, dan Q3. Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh soal
berikut.
Contoh
soal
Diketahui
data ulangan Matematika kelas X SMA Negeri 2 prabumulih sebagai berikut:
41,
52, 66, 86, 91, 65, 86, 88, 41, 62, 42, 59, 72, 99, 53,69, 87, 93, 64, 44, 64,
42, 92, 54, 78, 86, 92, 100, 79, 47
a.
Tentukan statistik Lima Serangkai.
b.
Buatlah diagram kotak garis.
Penyelesaian
a.
Setelah data diurutkan menjadi:
41,
41, 42, 42, 44, 47, 52, 53, 54, 59, 62, 64, 64, 65, 66, 69,72, 78, 79, 86, 86,
86, 87, 88, 91, 92, 92, 93, 99, 100
Diperoleh:
xmin = 41 merupakan data yang nilainya terendah
xmaks=
100 merupakan data yang nilainya tertinggi
Q1
= 53 merupakan kuartil bawah
Q2
= 67,5 merupakan kuartil tengah atau median
Q3 = 87 merupakan
kuartil atas
Atau ditulis menjadi:

Diagram
Kotak Garis 

Daftar
Pustaka
Widyantini,Dra.M.Ed.2004.Statistika.Pusat
Penataran Guru(PPPG)Matematika. Yogjakarta
Soedyarto Nugroho.2008. Matematika SMA MA Kelas XI
Program IPA.Bse. Jakarta
Djumanta Wahyudin.2008. Mahir Mengembangkan Kemampuan Matematika untuk
kelas XI SMA dan MA Program IPA. Bse. Diknas
DAFTAR
DISTRIBUSI FREKUENSI
A.
Latar
Belakang
Data
populasi atau data sampel yang sudah terkumpul, jika digunakan untuk keperluan
informasi, baik berupa laporan atau analisis lanjutan dalam penelitian
hendaknya diatur, disusun, disajikan dalam bentuk yang jelas dan komunikatif
dengan penyajian data yang lebih menarik publik.
Secara
umum ada beberapa cara penyajian data statistik yang sering digunakan, yaitu :
tabel,grafis, diagram, pengukuran tedensi sentral (gejala pusat) dan ukuran
penempatan (gejala letak).
B.
Tabel
atau Daftar
1. Tabel
Biasa
Tabel
biasa sering digunakan untuk bermacam keperluan baik bidang ekonomi, sosial,
budaya dan sebagainya
2. Tabel
Kontigensi
Tabel
kontigensi digunakan khusus data yang terletak antara baris dan kolom berjenis
variable kategori.
3. Tabel
Distribusi Frekuensi
Tabel
Distribusi digunakan untuk perhitungan membuat gambar statistic dalam berbagai bentuk
penyajian data.
C.
Daftar
Distribusi Frekuensi
Hasil pengukuran yang kita peroleh disebut dengan
data mentah. Besarnya hasil pengukuran yang kita peroleh biasanya bervariasi.
Apabila kita perhatikan data mentah tersebut, sangatlah sulit bagi kita untuk
menarik kesimpulan yang berarti. Untuk memperoleh gambaran yang baik mengenai
data tersebut, data mentah tersebut perlu di olah terlebih dahulu.
Pada saat kita dihadapkan pada
sekumpulan data yang banyak, seringkali membantu untuk mengatur dan merangkum
data tersebut dengan membuat tabel yang berisi daftar nilai data yang mungkin
berbeda (baik secara individu atau berdasarkan pengelompokkan) bersama dengan
frekuensi yang sesuai, yang mewakili berapa kali nilai-nilai tersebut terjadi.
Daftar sebaran nilai data tersebut dinamakan dengan Daftar Frekuensi atau
Sebaran Frekuensi (Distribusi Frekuensi).
Distribusi frekuensi adalah penyusunan
suatu data mulai dari terkecil sampai terbesar yang membagi banyaknya data
kedalam beberapa kelas. Distribusi frekuensi terdiri dari dua yaitu distribusi
frekuensi kategori dan distribusi numeric.
Distribusi frekuensi kategori ialah
distribusi frekuensi yang pengelompokkan datanya disusun berbentuk kata-kata
atau distribusi frekuensi yang penyatuan kelas-kelasnya didasarkan pada data
kategori(kualitatif). Sedangkan distribusi numeric ialah distribusi frekuensi
yang penyatuan kelas-kelasnya (disusun secara interval) didasarkan pada
angka-angka (kuantitatif).
Pengelompokkan data ke dalam beberapa
kelas dimaksudkan agar ciri-ciri penting data tersebut dapat segera terlihat.
Daftar frekuensi ini akan memberikan gambaran yang khas tentang bagaimana
keragaman data. Sifat keragaman data sangat penting untuk diketahui, karena
dalam pengujian-pengujian statistik selanjutnya kita harus selalu memperhatikan
sifat dari keragaman data. Tanpa memperhatikan sifat keragaman data, penarikan
suatu kesimpulan pada umumnya tidaklah sah.
Contoh :
Data nilai hasil ulangan Matematika di kelas X di SMA Negeri 2
Prabumulih
5, 4, 6, 7, 8, 8, 6, 4, 8, 6, 4, 6, 6, 7, 5, 5, 3, 4, 6, 6
8, 7, 8, 7, 5, 4, 9, 10, 5, 6, 7, 6, 4, 5,
7, 7, 4, 8, 7, 6
Dari
data di atas tidak tampak adanya pola yang tertentu maka agar mudah dianalisis data
tersebut disajikan dalam tabel seperti di bawah ini. 

Daftar
di atas sering disebut sebagai distribusi frekuensi dan karena datanya tunggal
maka disebut distribusi frekuensi tunggal.
2. Distribusi Frekuensi Kelompok
Tabel distribusi frekuensi bergolong biasa
digunakan untuk menyusun data yang memiliki kuantitas yang besar dengan
mengelompokkan ke dalam interval-interval kelas yang sama panjang. Perhatikan
contoh :
Data hasil nilai pengerjaan tugas Matematikadari 40 siswa kelas
XI di SMA Negeri 2 Prabumulih berikut
ini :
66 75 74 72 79 78 75 75 79 71
75 76 74 73 71 72 74 74 71 70
74 77 73 73 70 74 72 72 80 70
73 67 72 72 75 74 74 68 69 80
Apabila data di atas dibuat dengan menggunakan tabel distribusi
frekuensi tunggal, maka penyelesaiannya akan panjang sekali. Oleh karena itu
dibuat tabel distribusi frekuensi kelompok dengan langkah-langkah sebagai
berikut.
a. Mengelompokkan ke dalam interval-interval kelas yang sama
panjang, misalnya
65 –
67, 68 – 70, … , 80 – 82. Data 66 masuk dalam kelompok 65 – 67.
b.
Membuat turus (tally), untuk menentukan sebuah nilai termasuk ke dalam kelas yang
mana.
c. Menghitung banyaknya turus pada setiap kelas, kemudian
menuliskan banyaknya turus pada setiap kelas sebagai frekuensi data kelas
tersebut. Tulis dalam kolom frekuensi.
d.
Ketiga langkah di atas direpresentasikan pada tabel berikut ini.
Istilah-istilah
yang banyak digunakan dalam pembahasan distribusi frekuensi kelompok antara
lain sebagai berikut.
a. Interval
Kelas
Tiap-tiap
kelompok disebut interval kelas atau sering disebut interval atau kelas
saja. Dalam
contoh sebelumnya memuat enam interval ini.
65 – 67 →
Interval kelas pertama
68 – 70 →
Interval kelas kedua
71 – 73 →
Interval kelas ketiga
74 – 76 →
Interval kelas keempat
77 – 79 →
Interval kelas kelima
80 – 82 →
Interval kelas keenam
b. Batas Kelas
Berdasarkan
tabel distribusi frekuensi di atas, angka 65, 68, 71, 74, 77, dan 80
merupakan batas
bawah dari tiap-tiap kelas, sedangkan angka 67, 70, 73, 76, 79,
dan 82 merupakan
batas atas dari tiap-tiap kelas.
c. Tepi Kelas
(Batas Nyata Kelas)
Untuk mencari
tepi kelas dapat dipakai rumus berikut ini.
Tepi bawah =
batas bawah – 0,5
Tepi atas =
batas atas + 0,5
Dari tabel di
atas maka tepi bawah kelas pertama 64,5 dan tepi atasnya 67,5, tepi
bawah kelas
kedua 67,5 dan tepi atasnya 70,5 dan seterusnya.
d. Lebar kelas
Untuk mencari
lebar kelas dapat dipakai rumus:
Lebar kelas =
tepi atas – tepi bawah
Jadi,
lebar kelas dari tabel diatas adalah 67,5 – 64,5 = 3.
e. Titik Tengah
Untuk
mencari titik tengah dapat dipakai rumus:
Titik
tengah =
(batas atas + batas
bawah)
Dari
tabel di atas: titik tengah kelas pertama =
(67 + 65) = 66
titik
tengah kedua =
(70 + 68) = 69
3. Distribusi Frekuensi
Kumulatif
Daftar
distribusi kumulatif ada dua macam, yaitu sebagai berikut.
a.
Daftar distribusi kumulatif kurang dari (menggunakan tepi atas).
b.
Daftar distribusi kumulatif lebih dari (menggunakan tepi bawah).
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh data berikut ini.
Data
Nilai ulangan harian Matematika Kelas X di SMA Negeri 2 Prabumulih

Dari tabel di atas dapat dibuat daftar frekuensi kumulatif kurang dari dan lebih dari seperti
berikut.

Histogram
Dari
suatu data yang diperoleh dapat disusun dalam tabel distribusi frekuensi dan disajikan
dalam bentuk diagram yang disebut histogram. Jika pada diagram batang, gambar batang-batangnya terpisah maka
pada histogram gambar batang-batangnya.

Berdasarkan data diatas dapat dibentuk histogramnya seperti
berikut dengan membuat
tabel distribusi frekuensi tunggal terlebih dahulu.

Poligon
Frekuensi
Apabila
pada titik-titik tengah dari histogram dihubungkan dengan garis dan
batangbatangnya
dihapus,
maka akan diperoleh poligon frekuensi. Berdasarkan contoh di atas
dapat
dibuat poligon frekuensinya seperti gambar berikut ini.

Untuk lebih
jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini.
Contoh
soal
Hasil
pengukuran berat badan terhadap 100 siswa SMA X di
SMA Negeri 2 Prabumulih digambarkan dalam distribusi Kelompok seperti di bawah
ini. Sajikan data tersebut dalam histogram dan poligon frekuensi.

Penyelesaian
Histogram
dan poligon frekuensi dari tabel di atas dapat ditunjukkan sebagai berikut.

Poligon
Frekuensi Kumulatif
Dari
distribusi frekuensi kumulatif dapat dibuat grafik garis yang disebut polygon frekuensi kumulatif. Jika
poligon frekuensi kumulatif dihaluskan, diperoleh kurva yang disebut kurva ogive. Untuk lebih jelasnya,
perhatikan contoh soal berikut ini.
Contoh
soal
Hasil
tes ulangan Matematika terhadap 40 siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 2 Prabumulih digambarkan dalam tabel
di samping.
a.
Buatlah daftar frekuensi kumulatif kurang dari dan lebih dari.
b.
Gambarlah ogive naik dan ogive turun.

Penyelesaian
a. Daftar
frekuensi kumulatif kurang dari dan lebih dari adalah sebagai berikut.

Ogive
naik dan ogive turun
Daftar
frekuensi kumulatif kurang dari dan lebih dari dapat disajikan dalam bidang Cartesius.
Tepi atas (67,5; 70,5; …; 82,5) atau tepi bawah (64,5; 67,5; …; 79,5) diletakkan
pada sumbu X sedangkan frekuensi kumulatif kurang dari atau frekuensi kumulatif
lebih dari diletakkan pada sumbu Y. Apabila titik-titik yang diperlukan dihubungkan,
maka terbentuk kurva yang disebut ogive.
Ada dua macam ogive,yaitu ogive naik dan ogive
turun. Ogive naik apabila grafik disusun berdasarkan distribusi frekuensi
kumulatif kurang dari. Sedangkan ogive turun apabila berdasarkan distribusi
frekuensi kumulatif lebih dari.
Ogive naik dan
ogive turun data di atas adalah sebagai berikut.

DAFTAR PUSTAKA
Drs.
Riduan, MBA. 2004. Statistika untuk Lembaga dan Intansi Pemerintah. Bandung
Nugroho Soedyarto. 2008.
Matematika Jilid 2 untuk SMA dan MA kelas XI IPA. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar