NAMA :
TENNY ARIANI
NIM :
20102812021
MATA KULIAH : Desain Pembelajaran Matematika
PEND MATEMATIKA
PPS UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TEORI TAHAP-TAHAP BELAJAR DARI JEROME
S. BRUNER
A. Biografi J. S. Bruner
Bruner yang memiliki nama lengkap Jerome S.Bruner
seorang ahli psikologi (1915) dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, telah
mempelopori aliran psikologi kognitif yang memberi dorongan agar
pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berfikir. Bruner
banyak memberikan pandangan mengenai perkembangan kognitif manusia, bagaimana
manusia belajar, atau memperoleh pengetahuan dan mentransformasi pengetahuan.
Dasar pemikiran teorinya memandang bahwa manusia sebagai pemproses, pemikir dan
pencipta informasi. Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang
memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang
diberikan kepada dirinya.
B.
Konsep Teori
Belajar Bruner
Ada tiga proses kognitif
yang terjadi dalam belajar, yaitu
(1) Proses perolehan informasi baru
Perolehan
informasi baru dapat terjadi melalui kegiatan membaca, mendengarkan penjelasan
guru mengenai materi yang diajarkan atau mendengarkan audiovisual dan
lain-lain. Informasi ini mungkin bersifat penghalusan dari informasi sebelumnya
yang telah dimiliki
(2) Proses mentransformasikan informasi
yang diterima
Merupakan
suatu proses bagaimana kita memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar
sesuai dengan kebutuhan
(3) Menguji relevansi dan ketepatan
pengetahuan
Informasi
yang diterima dianalisis, diproses atau diubah menjadi konsep yang lebih
abstrak agar suatu saat dapat dimanfaatkan.
Menurut Bruner (dalam
Hudoyo,1990:48) belajar matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan
struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari,
serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika
itu. Siswa harus dapat menemukan keteraturan dengan cara mengotak-atik
bahan-bahan yang berhubungan dengan keteraturan intuitif yang sudah dimiliki
siswa. Dengan demikian siswa dalam belajar, haruslah terlibat aktif. mentalnya
agar dapat mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang
dibicarakan, anak akan memahami materi yang harus dikuasainya itu. Ini
menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan
lebih mudah dipahami dan diingat anak. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran
matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan
situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual,
peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika.
Bruner, melalui teorinya
itu, mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan
memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan
dapat diotak-atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Melalui
alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung bagaimana
keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang sedang
diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut kemudian oleh anak dihubungkan dengan
intuitif yang telah melekat pada dirinya.
Peran guru dalam penyelenggaraan
pelajaran tersebut
(a) perlu memahami sturktur mata
pelajaran
(b) pentingnya belajar aktif suapaya
seorang dapat menemukan sendiri konep-konsep sebagai dasar untuk memahami dengan benar
(c) pentingnya nilai berfikir induktif.
Dengan
demikian agar pembelajaran dapat mengembangkan keterampilan intelektual anak
dalam mempelajari sesuatu pengetahuan (misalnya suatu konsep matematika), maka
materi pelajaran perlu disajikan dengan memperhatikan tahap perkembangan kognitif
pengetahuan anak agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran
(struktur kognitif) orang tersebut. Proses internalisasi akan terjadi secara
sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan
yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga model tahapan yaitu model tahap
enaktif, model ikonik dan model tahap simbolik.
Bila dikaji
ketiga model penyajian yang dikenal dengan teori Belajar Bruner, dapat
diuraikan sebagai berikut:
1.
Model Tahap Enaktif
Dalam
tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung
terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek. Pada tahap ini anak belajar
sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan
menggunakan benda-benda konkret atau menggunakan situasi yang nyata, pada
penyajian ini anak tanpa menggunakan imajinasinya atau kata-kata. Ia akan
memahami sesuatu dari berbuat atau melakukan sesuatu.
2.
Model Tahap Ikonik
Dalam
tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana
pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang
dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari
objek-objek yang dimanipulasinya. Anak tidak langsung memanipulasi objek
seperti yang dilakukan siswa dalam tahap enaktif.
Tahap
ikonik yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan
itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual
imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau
situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut. Bahasa menjadi
lebih penting sebagai suatu media berpikir. Kemudian seseorang mencapai masa
transisi dan menggunakan penyajian ikonik yang didasarkan pada pengindraan
kepenyajian simbolik yang didasarkan pada berpikir abstrak.
3.
Model Tahap Simbolis
Dalam
tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbul-simbul
atau lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terikat dengan objek-objek
seperti pada tahap sebelumnya. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan
notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil. Pada tahap simbolik ini,
pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract symbols), yaitu simbol-simbol
arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang
bersangkutan, baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata,
kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak
yang lain.
Contoh :
Guru
akan mengajarkan konsep perkalian, objek digunakan misalnya sapi.
1. Tahap
enaktif, anak kita bawa ke kandang sapi, dengan mengamati dan mengotak-atik
dari 3 ekor sapi, jika kita perhatikan adalah:
banyaknya kepala :
3
banyaknya ekor :
3
banyaknya telinga : 6
banyaknya
kaki : 12
2. Tahap
Ikonik, anak dapat diberikan 3 ekor gambar sapi sebagai berikut:

a.
banyaknya kepala :
3
b.
banyaknya ekor :
3
c.
banyaknya telinga : 6
d.
banyaknya kaki :
12
3. Tahap
simbolis dapat ditulis kalimat perkalian yang sesuai untuk ketiga sapi tersebut
bila tinjauannya berdasarkan pada:
a.
kepalanya, maka banyak kepala = 3 x 1
b.
ekornya, maka banyaknya ekor = 3 x 1
c.
telinganya, maka banyak telinga = 3 x 2
d.
kakinya, maka banyaknya kaki = 3 x 4
Dari
fakta dan kalimat perkalian yang bersesuaian tersebut disimpulkan bahwa: 3 x 1
= 3, 3 x 2 = 6 dan 3 x 4 = 12.
Untuk
lebih jelas simbolis dipandang adalah kakinya, maka untuk:
·
banyaknya kaki pada 1 sapi = 4
·
banyaknya kaki 2 sapi = 8 ( karena kaki sapi 1 +
kaki sapi 2 ) = 4 + 4
·
banyaknya kaki 3 sapi = 12 ( kaki sapi 1 + kaki
sapi 2 + kaki sapi 3) = 4 + 4 + 4
Dengan
konstruksi berpikir semacam ini maka banyaknya kaki untuk
1
sapi = 1 x 4 = 4
2
sapi = 2 x 4 = 4 + 4 = 8
3
sapi = 3 x 4 = 4 + 4 + 4 = 12
Melanjutkan
perkalian tersebut, tanpa menunjukkan gambar sapi, anak dapat menyelesaikan
4
x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 = 16
5
x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 20
6
x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 24 dan seterusnya.
Selain
mengembangkan teori perkembangan kognitif, Bruner mengemukakan teorema atau
dalil-dalil berkaitan pengajaran matematika. Berdasarkan hasil-hasil eksperimen
dan observasi yang dilakukan oleh Bruner dan Kenney, pada tahun 1963 kedua
pakar tersebut mengemukakan empat teorema/dalil-dalil berkaitan dengan
pengajaran matematika yang masing-masing mereka sebut sebagai ”teorema atau
dalil”. Keempat dalil tersebut adalah :
1.
Dalil Konstruksi / Penyusunan (Contruction
Theorem)
Di
dalam teorema kontruksi dikatakan bahwa cara yang terbaik bagi seseorang siswa
untuk mempelajari sesuatu atau prinsip dalam Matematika adalah dengan
mengkontruksi atau melakukan penyusunan sebagai sebuah representasi dari konsep
atau prinsip tersebut. Siswa yang lebih dewasa mungkin bisa memahami sesuatu
konsep atau sesuatu prinsip dalam matematika hanya dengan menganalisis sebuah
representasi yang disajikan oleh guru mereka, akan tetapi kebanyakan siswa,
khususnya untuk siswa yang lebih muda, proses belajar akan lebih baik atau
melekat jika para siswa mengkonstruksi sendiri representasi dari apa yang
dipelajari tersebut. Alasannya, jika para siswa bisa mengkontruksi sendiri
representasi tersebut mereka akan lebih mudah menemukan sendiri konsep atau
prinsip yang terkandung dalam representasi tersebut, sehingga untuk selanjutnya
mereka juga mudah untuk mengingat hal-hal tesebut dan dapat mengaplikasikan
dalam situasi-situasi yang sesuai.
Dalam
proses perumusan dan mengkonstruksi atau penyusunan ide-ide, apabila disertai
dengan bantuan benda-benda konkret mereka lebih mudah mengingat ide-ide
tersebut. Dengan demikian, anak lebih mudah menerapkan ide dalam situasi nyata
secara tepat. Seperti yang diuraikan pada penjelasan tentang modus-modus representasi,
akan lebih baik jika para siswa mula-mula menggunakan representasi kongkret
yang memungkinkan siswa untuk aktif, tidak hanya aktif secara intelektual
(mental) tetapi juga secara fisik.
Contoh
untuk memahami konsep penjumlahan misalnya 5 + 4 = 9, siswa bisa melakukan dua
langkah berurutan yaitu 5 kotak dan 4 kotak, cara lain dapat direpresentasikan
dengan garis bilangan. Dengan mengulang hal yang sama untuk dua bilangan yang
lainnya anak-anak akan memahami konsep penjumlahan dengan pengertian yang mendalam.
2.
Dalil Notasi (Notation Theorem)
Menurut apa yang dikatakan dalam terorema notasi,
representasi dari sesuatu materi matematika akan lebih mudah dipahami oleh
siswa apabila di dalam representasi itu digunakan notasi yang sesuai dengan
tingkat perkembangan kognitif siswa. Sebagai contoh, untuk siswa sekolah dasar,
yang pada umumnya masih berada pada tahap operasi kongkret, soal berbunyi;
”Tentukanlah sebuah bilangan yang jika ditambah 3 akan menjadi 8”, akan lebih
sesuai jika direpresentasikan dalam diberikan bentuk
... + 3 = 8
atau + 3 = 8 atau a + 3 = 8
Notasi yang dibeikan tahap demi tahap ini sifatnya
berurutan dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit. Penyajian
seperti dalam matematika merupakan pendekatan spiral. Dalam pendekatan spiral
setiap ide-ide matematika disajikan secara sistimatis dengan menggunakan
notasi-notasi yang bertingkat. Pada tahap awal notasi ini sederhana, diikuti
dengan notasi berikutnya yang lebih kompleks.
3.
Dalil Kekontrasan dan Variasi (Contrast
and Variation Theorem)
Di dalam teorema
kekontrasan dan variasi dikemukakan bahwa sesuatu konsep Matematika akan lebih
mudah dipahami oleh siswa apabila konsep itu dikontraskan dengan konsep-konsep
yang lain, sehingga perbedaan antara konsep itu dengan konsep-konsep yang lain
menjadi jelas. Sebagai contoh, pemahaman siswa tentang konsep bilangan prima
akan menjadi lebih baik bila bilangan prima dibandingkan dengan bilangan yang
bukan prima, menjadi jelas. Demikian pula, pemahaman siswa tentang konsep
persegi dalam geometri akan menjadi lebih baik jika konsep persegi dibandingkan
dengan konsep-konsep geometri yang lain, misalnya persegipanjang,
jajarangenjang, belahketupat, dan lain-lain. Dengan membandingkan konsep yang
satu dengan konsep yang lain, perbedaan dan hubungan (jika ada) antara konsep
yang satu dengan konsep yang lain menjadi jelas. Sebagai contoh, dengan
membandingkan konsep persegi dengan konsep persegipanjang akan menjadi jelas
bahwa persegi merupakan kejadian khusus (a
special case) dari persegipanjang, artinya: setiap persegi tentu ,merupakan
persegipanjang, sedangkan suatu persegipanjang belum tentu merupakan persegi.
4.
Dalil Konektivitas atau Pengaitan (Connectivity
Theorem)
Di
dalam teorema konektivitas disebutkan bahwa setiap konsep, setiap prinsip, dan
setiap ketrampilan dalam matematika berhubungan dengan konsep-konsep,
prinsip-prinsip, dan ketrampilan-ketrampilan yang lain.
Adanya
hubungan antara konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan ketrampilan-ketrampilan itu
menyebabkan struktur dari setiap cabang matematika menjadi jelas. Adanya
hubungan-hubungan itu juga membantu guru dan pihak-pihak lain (misalnya
penyusun kurikulum, penulis buku, dan lain-lain) dalam upaya untuk menyusun
program pembelajaran bagi siswa.
Dalam
pembelajaran matematika, tugas guru bukan hanya membantu siswa dalam memahami
konsep-konsep dan prinsip-prinsip serta memiliki ketrampilan-ketrampilan
tertentu, tetapi juga membantu siswa dalam memahami hubungan antara
konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan ketrampilan-ketrampilan tersebut. Dengan
memahami hubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain dari
matematika, pemahaman siswa terhadap struktur dan isi matematika menjadi lebih
utuh.
Perlu
dijelaskan bahwa keempat dalil tersebut di atas tidak dimaksudkan untuk
diterapkan satu per satu seperti di atas. Dalam penerapan (implementasi), dua
dalil atau lebih dapat diterapkan secara bersamaan dalam proses pembelajaran sesuatu materi
matematika tertentu. Hal tersebut bergantung pada karakteristik dari materi
atau topik matematika yang dipelajari dan karakteristik dari siswa yang
belajar. Misalnya konsep Dalil Pythagoras diperlukan untuk menentukan Tripel
Pythagoras.
Ciri khas Teori Pembelajaran
Menurut Bruner
Empat Tema tentang Pendidikan
Empat Tema tentang Pendidikan
·
Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur
pengetahuan. Hal ini perlu karena dengan struktur pengetahuan kita menolong
siswa untuk untuk melihat, bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada
hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain.
·
Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk
belajar. Menurut Bruner kesiapan terdiri atas penguasaan
ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang
untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang lebih tinggi.
·
Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi
dalam proses pendidikan. Dengan intuisi, teknik-teknik intelektual untuk sampai
pada formulasi-formulasi tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk
mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupaka kesimpulan yang sahih atau
tidak.
·
Tema keempat adalah tentang motivasi atau
keingianan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk
merangsang motivasi itu.
Alat-Alat Mengajar
Jerome Bruner membagi alat instruksional dalam 4 macam menurut fungsinya.
1. alat untuk menyampaikan pengalaman “vicarious”. Yaitu menyajikan bahan-bahan kepada murid-murid yang sedianya tidak dapat mereka peroleh dengan pengalaman langsung yang lazim di sekolah. Ini dapat dilakukan melalui film, TV, rekaman suara dll.
2. Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip suatu gejala, misalnya model molekul atau alat pernafasan, tetapi juga eksperimen atau demonstrasi, juga program yang memberikan langkah-langkah untuk memahami suatu prinsip atau struktur pokok.
3. Alat dramatisasi, yakni yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau tokoh, film tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk hidup, untuk memberi pengertian tentang suatu ide atau gejala.
4. Alat automatisasi seperti “teaching machine” atau pelajaran berprograma, yang menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi ballikan atau feedback tentang responds murid
Jerome Bruner membagi alat instruksional dalam 4 macam menurut fungsinya.
1. alat untuk menyampaikan pengalaman “vicarious”. Yaitu menyajikan bahan-bahan kepada murid-murid yang sedianya tidak dapat mereka peroleh dengan pengalaman langsung yang lazim di sekolah. Ini dapat dilakukan melalui film, TV, rekaman suara dll.
2. Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip suatu gejala, misalnya model molekul atau alat pernafasan, tetapi juga eksperimen atau demonstrasi, juga program yang memberikan langkah-langkah untuk memahami suatu prinsip atau struktur pokok.
3. Alat dramatisasi, yakni yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau tokoh, film tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk hidup, untuk memberi pengertian tentang suatu ide atau gejala.
4. Alat automatisasi seperti “teaching machine” atau pelajaran berprograma, yang menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi ballikan atau feedback tentang responds murid
Metode Penemuan
Menurut Bruner metode belajar
merupakan faktor yang menentukan dalam pembelajaran dibandingkan dengan
pemerolehan khusus. Metode yang sangat didukungnya yaitu metode penemuan (discovery).
Discovery learning dari Buner, merupakan model pengajaran yang
di-kembangkan berdasarkan pada pandangan kognitif tentang pembelajaran dan
prinsip-prinsip konstruktivis. Di dalam discovery learning siswa
didorong untuk belajar sendiri secara mandiri. Siswa belajar melalui
keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam memecahkan
masalah dan guru mendorong siswa untuk mendapatkan pengalaman dengan melakukan
kegiatan yang memungkinkan siswa menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka
sendiri bukan memberi tahu tetapi memberkan kesempatan atau dengan berdialog
agar siswa menemukan sendiri. Pembelajaran ini membangkitkan keingintahuan
siswa, memotivasi siswa untuk bekerja sampai menemukan jawabannya. Siswa
belajar memecahkan secara mandiri dengan ketrampilan berpikir sebab mereka
harus menganalisis dan memanipul`asi informasi.
Metoda
penemuan adalah metoda mengajar yang mengatur pengajaran sedemikan rupa
sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu
tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dengan
penemuan ini pada akhirnya dapat meningkatkan penalaran dan kemampuan untuk
berpikir secara bebas dan melatih keterampilan kognitif siswa dengan cara
menemukan dan memecahkan masalah yang ditemui dengan pengetahuan yang telah
dimiliki dan menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.
Pembelajaran
menurut Bruner adalah siswa belajar melalui keterlibatan aktif dengan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam memecahkan masalah dan guru berfungsi
sebagai motivator bagi siswa dalam mendapatkan pengalaman yang memungkinkan
mereka menemukan dan memecahkan masalah.
Nampaklah,
bahwa Bruner sangat menyarankan keaktifan anak dalam proses belajar secara
penuh. Lebih disukai lagi bila proses ini berlangsung di tempat yang khusus,
yang dilengkapi dengan objek-objek untuk dimanipulasi anak, misalnya
laboratorium. Dengan metode ini anak didorong untuk memahami suatu fakta dan
hubungannya yang belum dia paham sebelumnya, dan yang belum diberikan kepadanya
secara langsung oleh orang lain.
Manfaat belajar
penemuan adalah sebagai berikut:
·
Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji
apakah belajar sudah bermakna
·
Pengetahuan yang diperoleh siswa akan tertinggal
lama dan mudah diingat
·
Belajar penemuan sangat diperlukan dalam
pemecahan masalah sebab yang diinginkan dalam belajar adar siswa dapat
mendemonstrasikan pengetahuan yang diterima
·
Transfer dapat ditingkatkan dimana generalisasi
telah ditemukan sendiri oleh siswa dari pada disajikan dalam bentuk jadi
·
Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai
pengaruh dalam menciptakan motivasiswa
·
Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuanuntuk
berpikir secara bebas.
Adapun tahap-tahap
Penerapan Belajar Penemuan
1. Stimulus
( pemberian perangsang/simuli); kegiatan belajar di mulai dengan memberikan
pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, menganjurkan dan mendorongnya untuk
membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan
masalah
2. Problem
Statement (mengidentifikasi masalah); memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran
kemudian memilih dan merumuskan dalam bentuk hipotesa (jawaban sementara dari
masalah tersebut)
3. Data
collecton ( pengumpulan data); memberikan kesempatan kepada para siswa untuk
mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau
tidaknya hipotesa tersebut
4. Data
Prosessing (pengolahan data); yakni mengolah data yang telah diperoleh siswa
melalui kegiatan wawancara, observasi dll. Kemudian data tersebut ditafsirkan;
5. Verifikasi,
mengadakan pemerksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis
yang ditetapkan dan dihubungkan dengan hasil dan processing
6. Generalisasi,
mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk
semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verivikasi.
(Muhibbin Syah,1995) dalam Paulina Panen (2003; Hal.3.16).
Disamping itu, karena
teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-penulangan, maka desain yang
berulang-ulang itu disebut Kurikulum Spiral
. Secara singkat, kurikulum spiral menuntut guru untuk memberi materi
pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks,
dimana materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali
secara terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih kompleks.
TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF DARI JEAN
PIAGET
Jean Piaget,
seorang psikolog dan pendidik berkebangsaan Swiss, terkenal karena teori
perkembangan kognitifnya. Jean Piaget lahir pada 9 Agustus 1896 di Neuchatel,
Swiss. Ia adalah anak seorang sejarawan. Masa kanak-kanak Jean Piaget banyak
dipengaruhi oleh apa yang ia lihat pada ayahnya, seorang pria yang berdedikasi pada
penelitian dan pekerjaannya. Karenanya, sejak kanak-kanak dia sangat suka
belajar, terutama dalam hal ilmu pengetahuan alam. Salah satu artikelnya, yang
ia tulis saat berumur lima belas tahun, membuatnya ditawari sebuah pekerjaan di
museum zoologi di Jenewa, Swiss. ia menolak tawaran itu untuk melanjutkan
pendidikannya. Ia menyelesaikan pendidikan ilmu pengetahuan alam di Universitas
Neuchatel pada 1916 dan mendapat gelar doktoral untuk penelitian atas
kerang-kerangan pada 1918.
Ayah angkat
Piaget mengenalkannya pada filsafat (penelusuran terhadap pengetahuan). Biologi
(studi terhadap makhluk hidup) kemudian digabungkan dengan epistemologi (studi
pengetahuan), keduanya mendasari teori pembelajarannya di kemudian hari.
Bekerja di dua laboratorium psikologi di Zurich, Swiss, membuatnya mengenal
psikoanalisis (studi proses kejiwaan). Di Paris, tepatnya di Soborne, ia
mempelajari psikologi abnormal (studi penyakit jiwa), logika, dan epistemologi.
Dan pada 1920, dengan Théodore Simon di Laboratorium Binet, ia mengembangkan
tes pemikiran yang telah distandarisasi (tes universal).
Setelah tahun
1921, Jean menjadi direktur penelitian, asisten direktur, dan kemudian wakil
direktur di Jean Jacques Rousseau Institute (Institut Jean Jacques Rousseau),
yang kemudian menjadi bagian Geneva University (Universitas Jenewa), di mana ia
menjadi profesor sejarah dalam bidang pemikiran ilmiah (1929-1939). Dia juga
mengajar di universitas-universitas Paris, Lausanne dan Neuchatel. Dia menjadi
ketua International Bureau of Education (Biro Pendidikan Internasional) dan duta
United Nations Economic and Scientific Committee (UNESCO) Swiss. Pada 1923, ia
menikah dengan salah seorang rekan kerja mahasiswa, Valentine Châtenay. Pada
tahun 1925, putri pertama mereka lahir, pada tahun 1927, putri kedua mereka
lahir, dan pada tahun 1931, satu-satunya anak laki-laki lahir. Mereka segera
menjadi fokus pengamatan intensif oleh Piaget dan istrinya.
Teori Pengembangan Kognitif
Jean
Piaget merupakan tokoh teori kognitif yang pertama. Sebagai ahli psikologi, ia
telah membuat soal standar tes kecerdasan siswa. Jawaban benar atau salah yang
diberikan siswa telah menjadi sesuatu yang menarik. Istilah kognitif dalam perspektif psikologi
tidak sebatas sekumpulan pengetahuan, informasi, wawasan, dan sejenisnya yang
dimiliki seseorang, melainkan berkaitan erat dengan peristiwa mental yang
terlibat dalam pengenalan (knowing) tentang dunia. Bahasa sederhananya
adalah “berpikir”. Cara berpikir seseorang sejak masa kanak-kanak sampai dewasa
mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia.
Jean
Piaget (Clifford T. Morgan,1986) yang telah mempelajari intelegensi anakanak
sejak tahun 1920. Intelegensi di sini maksudnya adalah, sebagai proses-proses
mental atau kognitif yang memungkinkan seorang anak mengenal dunia. mengapa
anak-anak pada usia yang sama melakukan kesalahan yang sama. Hal ini membuat
dia menyiapkan tahapan perkembangan yang dapat menjelaskan pertumbuhan
intelektual.
Piaget percaya bahwa ada factor
biologis yang tak dapat dihindarkan dalam perkembangan anak. Dia melakukan
penelitian pada individu anak (terutama pada anaknya sendiri) dan dengan metode
ini ia menetapkan prinsip teorinya itu.
Ia menggunakan istilah schema untuk
menunjukkan bagaimana anak secara aktif membentuk dunianya. Schema adalah
sebuah konsep atau framework yang ada dalam pemahaman individu untuk
mengorganisasi dan menafsirkan informasi.
Piaget menganggap bahwa ada dua
proses tanggung jawab agar anak dapat menggunakan dan mengadaptasikan schema:
- Asimilasi terjadi ketika seorang anak mengolah pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Asimilasi meliputi penyesuaian lingkungan ke dalam schema
- Akomodasi terjadi ketika seorang siswa menyesuaikan informasi baru. Akomodasi adalah penyesuaian sebuah schema ke dalam lingkungan.
Piaget juga menggunakan istilah cognitive
equilibrium untuk menjelaskan mengapa anak menggunakan proses asimilasi dan
akomodasi. Cognitive equilibrium adalah suatu pernyataan keseimbangan
mental. Ketika seorang anak memiliki pengetahuan baru tidak secara utuh
dimasukkan ke dalam pengetahuan yang sudah ada hal ini disebut dengan cognitive
disequilibrium. Awalnya hasil ini menimbulkan masalah tetapi kemudian
menuntun pada pertumbuhan kognitif.
Teori Piaget memiliki pengaruh yang
sangat kuat pada pendidik dan persekolahan yang dapat dijelaskan bahwa,
- Cara berpikir anak berbeda-beda sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
- Pembelajaran menuntut keterlibatan aktif; fisik dan mental, anak dengan lingkungan
- Anak-anak membangun struktur pengetahuannya sendiri. Mereka tidak secara pasif menerima pengetahuan tetapi mengorganisasikan dan mentransformasikan pada struktur pengetahuannya.
- Cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa dan tingkat berpikirnya pun berbeda-beda pada stiap tahapannya.
Piaget mengemukakan penahapan
dalam perkembangan intelektual anak yang dibagi ke dalam empat periode, yaitu :
1. Periode sensori-motor (0 – 2
tahun)
Pada tahapan ini anak belajar:
- Objek tetap ada dan masih ada ketika ia tidak lagi melihatnya. Mereka menggunakan bayangan untuk menghadirkan objek itu.
- Memulai kegiatan yang terarah. Mereka menggunkan metode trial and error fisik dan mental untuk mengubah objek.
2. Periode pra-operasional (2 –
7 tahun)
Pada tahapan ini anak:
- Mengklasifikasikan benda berdasarkan pada karakteristik tunggal.
- Bentuk dan penggunaan simbol seperti kata, gerak tubuh, dan tanda-tanda.
- Kegiatan peniruan dan pura-pura seperti menyisir rambut.
- Merumuskan konsep lama.
- Egosentrik: sulit memahami pandangan orang lain.
- Mengalami kesulitan dalam mengingat lebih banyak aspek situasi dalam waktu yang sama.
- Memahami kesulitan memahami percakapan.
3. Periode operasional konkret
(7 – 11 tahun)
Anak dalam tahapan ini:
- Dapat menggunakan sistemklasifikasi.
- Dapat mengenal stabilitas fisik,
- Dapat mengenal elemen yang dapat dirubah tanpa kehilangan karakter dasarnya
- Dapat memeringkat objek-objek yang berbeda urutannya,
- Mengembangkan lebih banyak pendekatan sosiometri dan lebih sedikit egosentrik saat berkomunikasi dengan orang lain.
4. Periode opersional formal (11 –
dewasa)
Anak dalam tahapan ini:
- Berpikir formal menggunakan kemungkinan abstrak tetapi tidak dapat menjelaskan proses berpikir yang mereka gunakan.
- Membayangkan dunia yang ideal.
- Tertarik pada egosentrisme remaja.
- Menarik kesimpulan dari prinsip umum menjadi aktivitas khusus.
- Menyelediki pilihan logis secara sistematis.
- Memisahkan factor-faktor individual dan factor-faktor kombinasi yang dapat memberikan sumbangan pada pemecahan masalah.
Implikasi Teori Piaget pada
Pembelajaran
Sebagai guru, penting bagi kita untuk
mengamati dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang siswa katakan dan
kerjakan dan mencoba untuk menganalisa bagaimana mereka berpikir. Beberapa
konsep dan prinsip, termasuk dalam teori Piaget, memiliki implikasi penting
pada pengembangan berpikir siswa.
1. Concrete materials:
Terutama di taman kanak-kanak
dan anak usia dini, siswa memerlukan objek-objek nyata dalam bekerja untuk
memanipulasi, melakukan, menyentuh, melihat, dan merasakan benda-benda.
2. Open learning:
Kelas terbuka tepat didirikan
agar siswa mampu bekerja dengan proyek-proyek individu yang bermacam-macam.
Mereka berkesempatan untuk mengumpulkan, menyusun dan menata benda-benda dan
menghasilkan berbagai kesimpulan tentang masalah-masalah yang dibahas. Siswa
dapat membuat keputusan tentang pekerjaannya dan dapat mengembangkan tanggung
jawab dalam menata tujuan pendidikannya.
3.Discovery learning:
Berpikir meliputi penemuan
jawaban untuk memecahkan masalah. Pendekatan induktif yang digunakan siswa
dapat membimbingnya untuk menemukan kepribadiannya. Sangat penting bagi siswa
untuk memperoleh pemahaman konsep dan prinsip-prinsip yang lebih rumit.
4. Matching strategies to abilities:
Tahapan Piaget menyajikan beberapa
pandangan untuk membantu guru dalam menyiapkan pengalaman belajar yang cocok
dengan tanggung jawab siswa. Kegiatan belajar harus menciptakan permainan yang
tepat untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa dalam mengatasi masalah.
5. Langkah pembelajaran:
Siswa memerlukan kesempatan
untuk belajar melalui aktivitas sesuai dengan langkahnya sendiri daripada dalam
aturan kelompok. Karena perbedaan pola perkembangan siswa akan sangat
bervariasi dalam bagaimana kesuksesan yang mereka raih dengan tugas-tugas
tertentu. Yang paling penting dari semuanya, siswa memerlukan waktu dan
kesempatan untuk mengelompokkan susunan pengetahuan mereka sendiri.
Kritik terhadap Teori Piaget
Teori Piaget telah mempengaruhi para
pendidik yang peduli pada pengembangan pengetahuan. Jenis-jenis program pendidikan
telah dirancang dengan berorientasi pada perkembangan terutama untuk sekolah
dasar.
- Adanya perbedaan tahapan secara structural
Tidak ada pemikiran yang
konsisten pada setiap tahapan yang diajukan Piaget. Lebih lanjut, penelitan
terakhir menunjukkan bahwa program pelatihan dapat memungkin siswa untuk
belajar konsep tertentu sebelum mereka mencapat tahapan tertentu.
- Memahami kemampuan intelektual anak-anak
Metode klinis Piaget dalam
pengumpulan data menunjukkan sulitnya memahami persoalah-persoalah anak muda.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa anak sebelum sekolah lebih kompeten
dibanding dengan hasil studi klinisnya Piaget
- Mengabaikan pengaruh budaya dan kelompok social siswa
Tahapan perkembangan yang dibuat oleh
Piaget tepat bagi budaya barat yang berpikir ilmiah dan operasi formal yang
dihargai secara layak. Budaya lain yang berbeda dalam prioritas, mungkin tidak
berlaku.
- Memperkecil keunggulan proses budaya dan social
Beberapa penulis berpendapat bahwa anak
Piaget adalah ilmuwan yang menyendiri yang menyusun pengetahuannya keluar dari
konteks budaya dan asumsi teori yang terbatas. Anak-anak tumbuh dalam
lingkungan social yang berbeda yang berpengaruh pada pengalaman dan
pengembanganannya dalam perkembangan pengetahuan. Penulis lain menyanggah
Piaget factor social dalam teori perkembangannya sebagai kerjasama
social.Berger (2000) mencatat ada tiga pilar perkembangan yang diajukan oleh
para ahli sebagai raeaksi terhadap keterbatasan teori Piaget, yaitu: neo-Piagetian,
contructivism, dan cooperative social interaction.
Daftar
Pustaka
Malalina.2011.Tahap-tahap
Belajar dari Jerome Bruner. http://yrmalalina.blogspot.com/2011/09/tahap-tahap-belajar-dari-jerome-bruner.html
(online
Tanggal 18 Oktober 2011)
Siti Hawa. Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar
Romi
Hidayatullah.2010. Ciri Khas Teori Pembelajaran Jerome Bruner. http://romihidayatullah.blogspot.com/2010/10/ciri-khas-teori-pembelajaran-menurut.html
(Online Tanggal 18 Oktober 2011)
Yati Siti
Mulyati. Bagaimana
Siswa Berkembang dan Belajar (Online Tanggal 18 Oktober 2011)
Yuli Kwartolo.2007.Briliant Class.Jurnal Pendidikan
Penabur. (Online Tanggal 18 Oktober 2011)
________2011.
Teori Belajar Bruner. http://dewipurnawati1.weebly.com/4/post/2011/05/teori-belajar-jerome-bruner.htm
(Online Tanggal 18 Oktober 2011).
_______2011.Jean Piaget.http://psychologymania.wordpress.com/2011/07/12/jean-piaget-tokoh-psikologi-perkembangan-kognitif/.
(Online Tanggal 18 Oktober 2011)
NAMA :
TENNY ARIANI
NIM :
20102812021
MATA KULIAH : Desain Pembelajaran Matematika
PEND MATEMATIKA
PPS UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Teori perkembangan kognitif melihat bahwa proses belajar
seseorang dilihat dari tingkat kemampuan kognitifnya, dalam proses belajar
mengajar tingkat kognitif menjadi suatu hal yang sangat penting, karena
kemampuan tingkat kognitif seseorang tergantung dari usia seseorang, sehingga
dalam pembelajaran pada orang dewasa berbeda dengan pembelajaran anak-anak.
Zoltan P. Dienes adalah seorang matematikawan yang
memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Dasar
teorinya bertumpu pada teori pieget, dan pengembangannya diorientasikan pada
anak-anak, sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik
bagi anak yang mempelajari matematika.
Dienes (Ruseffendi,
1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi
tentang struktur, memisah-misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur
dan mengkategorikan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur. Seperti
halnya dengan Bruner, Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip
dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami
dengan baik. Ini mengandung arti bahwa jika benda-benda atau objek-objek dalam
bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam
pengajaran matematika.
Perkembangan konsep
matematika menurut Dienes (Resnick, 1981) dapat dicapai melalui pola berkelanjutan,
yang setiap seri dalam rangkaian kegiatan belajar dari konkret ke simbolik.
Tahap belajar adalah interaksi yang direncanakan antara yang satu segmen
struktur pengetahuan dan belajar aktif, yang dilakukan melalui media matematika
yang disain secara khusus. Menurut Dienes, permainan matematika sangat penting
sebab operasi matematika dalam permainan tersebut menunjukkan aturan secara
konkret dan lebih membimbing dan menajamkan pengertian matematika pada anak
didik. Dapat dikatakan bahwa objek-objek konkret dalam bentuk permainan
mempunyai peranan sangat penting dalam pembelajaran matematika jika
dimanipulasi dengan baik.
Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat
dianggap sebagai studi tentang struktur, memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara
struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara
struktur-struktur. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip
dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami
dengan baik. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam
bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam
pengajaran matematika.
Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan
dalam konsep-konsep tertentu, akan makin jelas konsep yang dipahami anak,
karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis
dalam konsep yang dipelajarinya itu.
Dalam mencari kesamaan sifat anak-anak mulai diarahkan dalam
kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti.
Untuk melatih anak-anak dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini, guru perlu
mengarahkan mereka dengan mentranslasikan kesamaan struktur dari bentuk
permainan yang satu ke bentuk permainan lainnya. Translasi ini tentu tidak
boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula..
Menurut
Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap
tertentu. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap, yaitu:
Permainan Bebas (Free Play)
Dalam setiap tahap belajar, tahap yang paling awal dari
pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Permainan bebas merupakan
tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan.
Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Selama permainan pengetahuan
anak muncul. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur
sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari.
Misalnya dengan diberi permainan block logic, anak didik mulai
mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna, tebal tipisnya benda yang
merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi.
Permainan yang Menggunakan Aturan (Games)
Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai
meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu.
Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat
dalam konsep yang lainnya. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi.
Jelaslah, dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan
memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Makin banyak bentuk-bentuk
berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu, akan semakin jelas konsep yang
dipahami siswa, karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan
matematis dalam konsep yang dipelajari itu. Menurut Dienes, untuk membuat
konsep abstrak, anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan
bermacam-macam pengalaman, dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan
pengalaman itu. Contoh dengan permainan block logic, anak diberi
kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis, atau yang berwarna merah,
kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga, atau yang tebal, dan
sebagainya. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis, atau yang merah, timbul
pengalaman terhadap konsep tipis dan merah, serta timbul penolakan terhadap
bangun yang tipis (tebal), atau tidak merah (biru, hijau, kuning).
Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities)
Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam
kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti.
Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini, guru perlu mengarahkan
mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain.
Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan
semula. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic,
anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal, anak
diminta
mengidentifikasi
sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok).
Permainan Representasi (Representation)
Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa
situasi yang sejenis. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep
tertentu. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam
situasi-situasi yang dihadapinya itu. Representasi yang diperoleh ini bersifat
abstrak, Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika
yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. Contoh
kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh
tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini.
Segitiga
Segiempat Segilima Segienam Segiduapuluhtiga
0
diagonal 2 diagonal 5 diagonal ….. diagonal ……. diagonal
Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization)
Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan
kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan
simbol matematika atau melalui perumusan verbal. Sebagai contoh, dari kegiatan
mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut, kegiatan
berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang
digeneralisasikan dari pola yang didapat anak.
Permainan dengan Formalisasi (Formalization)
Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir.
Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan
kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut, sebagai contoh siswa yang
telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma, harus
mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. Contohnya,
anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti
aksioma, harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma, dalam arti
membuktikan teorema tersebut.
Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan
teorema serta membuktikannya secara deduktif, tetapi mereka sudah mempunyai
pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang
terlibat satu sama lainnya. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan
peserta sifat-sifat tertutup, komutatif, asosiatif, adanya elemen identitas,
dan mempunyai elemen invers, membentuk sebuah sistem matematika. Dienes
menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama
belajar.
Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu
dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat
dipahami dengan tepat. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam
berbagai penyajian (multiple embodiment), sehingga anak-anak
dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat
anak didik. Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat
mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep.
Menurut Dienes, variasi sajian hendaknya tampak berbeda
antara satu dan lainya sesuai dengan prinsip variabilitas perseptual (perseptual
variability), sehingga anak didik dapat melihat struktur dari berbagai
pandangan yang berbeda-beda dan memperkaya imajinasinya terhadap setiap konsep
matematika yang disajikan. Berbagai sajian (multiple embodiment)
juga membuat adanya manipulasi secara penuh tentang variabel-variabel
matematika.
Variasi matematika dimaksud untuk membuat lebih jelas
mengenai sejauh mana sebuah konsep dapat digeneralisasi terhadap konsep yang
lain. Dengan demikian, semakin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan
dalam konsep tertentu, semakin jelas bagi anak dalam memahami konsep tersebut.
Berhubungan dengan tahap belajar, suatu anak didik
dihadapkan pada permainan yang terkontrol dengan berbagai sajian. Kegiatan ini
menggunakan kesempatan untuk membantu anak didik menemukan cara-cara dan juga
untuk mendiskusikan temuan-temuannya. Langkah selanjutnya, menurut Dienes,
adalah memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material
kongkret dengan gambar yang sederhana, grafik, peta dan akhirnya memadukan
simbolo – simbol dengan konsep tersebut.
Langkah-langkah ini merupakan suatu cara untuk memberi
kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan
formalisasi melalui percobaan matematika. Proses pembelajaran ini juga lebih
melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara aktif dari pada hanya
sekedar menghapal. Pentingnya simbolisasi adalah untuk meningkatkan kegiatan
matematika ke satu bidang baru.
Perkembangan kognitif setiap individu yang berkembang secara
kronologi tidak terlepas dari faktor usia, pola berpikir anak-anak tidak sama
dengan pola berfikir orang dewasa, semakin ia dewasa makin meningkat pula
kemampuan berpikirnya. Jadi, dalam memandang anak keliru jika kemampuan anak
dengan kemampuan orang dewasa sama, sebab anak bukan miniatur orang dewasa.
Selain daripada itu, perkembangan kognitif seorang individu
dipengaruhi oleh lingkungan dan transmisi sosial. Jadi, karena efektivitas
hubungan antara setiap individu dengan lingkunganya dan kehidupan sosialnya
berbeda satu sama lain. Maka tahap perkembangan kognitif yang dicapai oleh
setiap individu berbeda pula. Oleh karena itu agar perkembangan kognitif
seorang anak berjalan secara maksimal diperkaya dengan pengalaman edukatif.
Daftar Pustaka
Dahar,
1988. Teori-Teori Belajar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pengambangan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan.
Fitriani Nur.2008.Teori Belajar
Permainan Dienes dalam Pembelajaran Matematika. http://www.masbied.com/2010/03/20/teori-belajar-permainan-dienes-dalam-pembelajaran-matematika/
(Online Tanggal 12 September 2011)
Lambas,
dkk. 2004: Materi Pelatihan Terintegrasi Matematika Buku 3:
DEPDIKNAS.Jakarta
Nur,
1999. Teori Pembelajaran Kognitif. Universitas Negeri Surabaya.
Ratumanan,
T.G. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Unesa University Press, Surabaya.
Tim MKPBM, 2001. Strategi
Pembelajaran Matematika Kontemporer. JICA Universitas Pendidikan Indonesia
(UPI).
TEORI
BELAJAR BERMAKNA DARI DAVID P. AUSUBEL
Teori pembelajaran Ausubel merupakan salah
satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam
cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan.
Menurut Ausubel bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah “bermakna”
(meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan
informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif
seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan
generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Pembelajaran bermakna adalah
suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur
pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran.
Menurut Ausubel dalam (Dahar, 1988: 134)
belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama
berhubungan dengan cara informasi atau materi disajikan pada siswa, melalui
penemuan atau penerimaan. Belajar penerimaan menyajikan materi dalam bentuk
final, dan belajar penemuan mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian
atau seluruh materi yang diajarkan. Dimensi kedua berkaitan dengan bagaimana
cara siswa dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur
kognitif yang telah dimilikinya, ini berarti belajar bermakna. Akan tetapi jika
siswa hanya mencoba-coba menghapal informasi baru tanpa menghubungkan dengan
konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya, maka dalam hal ini
terjadi belajar hafalan.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi
belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas,
dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu
tertentu.
Sifat-sifat struktur kognitif menentukan
validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke
dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi.
Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang
sahih dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi
sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak
teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.
Menurut Ausubel, seseorang belajar dengan
mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya. Dalam proses
itu seseorang dapat memperkembangkan skema yang ada atau dapat mengubahnya.
Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri.
Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat
dekat dengan Konstruktivesme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar
mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru kedalam sistem
pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi
pengalaman baru kedalam konsep atau pengertian yang sudah dipunyai siswa.
Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.
Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat
mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama
seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa,
terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau
mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada
tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak
waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan
penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.
Inti dari teori belajar bermakna Ausubel
adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam
menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang
relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan
guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance
organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan
consolidation.
Empat type belajar menurut Ausubel , yaitu:
- Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau sebaliknya, siswa terlebih dahulu menmukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
- Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
- Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.
- Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir , kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah ia miliki.
Prasyarat agar belajar menerima menjadi bermakna menurut
Ausubel, yaitu:
- Belajar menerima yang bermakna hanya akan terjadi apabila siswa memilki strategi belajar bermakna.
- Tugas-tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus disesuaikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
- Tugas-tugas belajar yang diberikan harus sesuai dengan tahap perkembangan intelektual siswa.
C. SUMBER
Siroj, Rusdy A.
2006. Teori-teori Belajar-Mengajar Matematika (Diktat bahan pelatihan
guru matematika SMP kota Palembang). Palembang : Depdiknas
Devi_'Athifah .2010. Teori belajar
David P Ausubel. http://mardhiyanti.blogspot.com/2010/03/teori-belajar-bermakna-dari-david-p.html. Online
Tgl 6 September 2010.
NAMA :
TENNY ARIANI
NIM :
20102812021
MATA KULIAH : Desain Pembelajaran Matematika
PEND MATEMATIKA
PPS UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar